
Tentang panggilan/hidup

Tumbuh lebih baik, cari panggilanmu
Jadi lebih baik, dibanding diriku
Dan rupanya, semua pengalamanku telah membawaku kepada kesadaran akan panggilan. Panggilan hidup, setelah kutemui dan kusadari, ternyata adalah salah satu bentuk lanjutan dari mengenal diri sendiri. Terdengar sangat klise, tapi sebenarnya, panggilan hidup adalah bentuk jawaban dari pertanyaan “kenapa aku dilahirkan?”, yang mana menurut pengalamanku, pertanyaan ini muncul setelah benar-benar mendapatkan jawaban “siapa aku sebenarnya?”
Mari mulai tulisan ini dari definisi panggilan itu sendiri. Menurut pengalaman pribadi penulis, panggilan adalah, ya panggilan—sesuatu yang memanggil dari dalam hati, sanubari, atau pikiran kita sendiri. Panggilan bisa dilihat sebagai sesuatu semangat, takdir, ataupun perasaan. Sebagai semangat, panggilan dapat membawa semangat dan api baru untuk memulai sesuatu. Panggilan bisa membawa keberanian untuk berani melakukan lompatan besar dalam karir, dalam hidup, dan dalam banyak hal lain. Jika kamu menemui panggilan adalah takdir, maka rasanya, hidup akan selalu membawa kita ke tempat dimana kita memang perlu berada disana. Sebagai perasaan, maka seperti definisi literalnya, panggilan adalah sesuatu yang harus dijawab disela-sela hidup sialan ini.
Panggilan itu sesuatu kesimpulan yang muncul setelah refleksi panjang. Panggilan itu sesuatu yang tidak sedikitpun reaktif. Panggilan itu terbentuk perlahan-lahan, dari tiap pengajaran, pengalaman, pembelajaran. Panggilan adalah sebab dan sekaligus akibat dari segala hal yang dilalui dalam hidup. Ia bukan sekadar target pencapaian atau daftar keinginan yang dipinjam dari ekspektasi orang lain. Panggilan adalah tentang benar-benar mengetahui perasaan hatimu, kenapa perasaan itu muncul, dan kenapa perasaan itu yang muncul. Panggilan pada akhirnya adalah manifesto pribadi yang kutulis masing-masing tentang bagaimana aku hidup dan bagaimana aku mau mati.
Tulisan ini adalah salah satu hal refleksi pribadi yang kudapat setelah melalui berbagai pasang-surut 2025. Yah, sebenarnya tak adil juga menganggap bahwa tahun itu penuh dengan penderitaan dan kehilangan semata, karena toh banyak hal baik juga yang kudapatkan di tahun itu. Banyak “kali pertama” yang kudapatkan di tahun 2025, sebut saja pergi ke Jepang, beli gawai idaman, naik jabatan di kantor, dan membeli aset investasi. Hal-hal ini mungkin terdengar sangat keren, sangat “wow”, “selamat Kev!” di permukaan. Dan sebenarnya, akupun setuju, dan aku sangat-sangat bersyukur atas hal-hal baik tersebut. Tapi ternyata, dalam tingkat yang lebih personal, rupanya hal-hal ini tidak membawa kebahagiaan dan pemenuhan kebutuhan dalam hatiku. Mencapai target yang digaungkan lingkungan dan media sosial ternyata tidak membawaku ke tempat yang kuinginkan. Justru, lambat-laun rasanya seperti mencentang daftar keinginan milik orang lain yang perlahan-lahan menggerogoti dan melahirkan perasaan negatif. Sebut saja, burnout, demotivasi, dan kecemasan berlebih di tempat kerja.
Kenyataan ini kemudian membawaku ke titik mulai baru dalam hidupku. Melepas segalanya, memulai lagi dari nol dalam hidup dan dalam karir. Aku mengakhiri tahun dengan menerima kenyataan bahwa aku kehilangan banyak hal yang kumiliki di awal tahun yang sama. Bukan hal yang mudah, dan aku tak akan pernah mendoakan hal ini kepada orang yang kubenci sekalipun. Tetapi, pengalaman ini membawaku kembali ada di titik yang tepat untuk merefleksikan lagi makna hidupku. Pada akhirnya, hidup adalah tentang perjuangan dan penderitaan. Untungnya, tanda titik pada kalimat tersebut bukan berarti pernyataan dan opini tersebut sudah final, karena tentu saja kalimat tersebut terdengar menyedihkan, sinis, dan bahkan terlalu gelap. Versi lengkapnya, hidup adalah tentang memilih sesuatu yang layak untuk diperjuangkan dan diemban penderitaannya.
Dari semua carut-marut itulah, aku menemukan panggilan hidupku dan bagaimana itu menjadi jawaban yang kucari tentang kemana hidupku akan diarahkan. Ketika aku kehilangan pekerjaan, relasi, dan stabilitas yang kupikir adalah identitasku, panggilan mengingatkanku bahwa aku bukan sekadar jabatan, pencapaian, atau validasi orang lain. Bahwa aku lebih dari sekadar target, sekadar nama, sekadar wajah. Panggilan membawaku berkarya lagi karena ternyata aku lebih dari sekadar pekerjaanku, tapi aku terpanggil untuk membuat sesuatu untuk orang banyak. Dari situ, kumulai lagi semua setelah aku menemukan lagi api untuk berkarya, membuat ManaDuitnya. Aplikasi web ini sederhana, tapi dari sini, kusadari bahwa api yang menyala lagi ini adalah salah satu panggilan hidup yang baru kusadari kekuatannya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tidak berkarya untuk memenuhi ekspektasi orang lain, tetapi untuk menjawab bisikan dalam diriku yang mengatakan: "Ini yang seharusnya kaulakukan." Dan dari sinilah, aku menemukan sumber hidup, panggilan, alasanku bertahan, dan melanjutkan.


